Selasa, 21 Mei 2013
Rabu, 17 April 2013
Rabu, 10 April 2013
Sabtu, 06 April 2013
Kamis, 04 April 2013
Probable Causes of Classroom Anxiety
Probable Causes of Classroom Anxiety
|
|
Kemungkinan Penyebab Kecemasan Kelas
Siswa dapat mengembangkan kecemasan kelas hanya jika sejumlah variabel dibahas
bawah hadir. Biasanya, seorang siswa tidak menjadi cemas karena satu buruk Situasi, namun, jika situasi yang traumatis cukup mereka mungkin menjadi cemas sekolah.
Siswa mungkin menderita beberapa derajat kecemasan kelas jika tujuan kami, tujuan, dan
niat terlalu ambigu, tidak jelas, atau tidak teratur. Semua siswa perlu tujuan yang jelas,
tujuan, dan niat untuk melakukan, jika tidak, mereka merasa tidak aman tentang tugas
dan proyek.
Siswa mungkin menderita beberapa derajat kecemasan kelas jika mereka hanya gagal dalam
sekolah, tidak pernah berhasil. Sejarah masa lalu siswa, bala bantuan masa lalu, dan masa lalu
kegagalan semua bisa berkontribusi pada ketakutan perasaan siswa tentang situasi kelas.
Sebagai contoh, jika seorang siswa gagal Inggris tiga kali pada saat mereka mengambil waktu yang keempat, mereka cemas, tidak aman, dan memprihatinkan.
Siswa mungkin menderita beberapa derajat kecemasan kelas jika mereka memprihatinkan
hal-hal lain di dalam kelas seperti pengujian, evaluasi komunikasi,, yang guru, atau menulis. Jika seorang siswa umumnya cemas tentang beberapa kelas kegiatan yang berhubungan, maka ia dapat menjadi lebih cemas tentang kelas umum Situasi.
Siswa mungkin menderita beberapa derajat kecemasan kelas jika mereka mengalami biasa
orangtua tekanan untuk berhasil. Banyak orang tua membuat ruang kelas dan sekolah sukses primer perhatian anak mereka. Mereka kesan kepada anak bahwa jika mereka tidak melakukannya dengan baik di sekolah, mereka
tidak dapat berhasil dalam usaha-usaha lainnya. Karena begitu banyak yang naik pada keberhasilan kelas,
anak menjadi cemas tentang keberhasilan kelas.
Siswa mungkin menderita beberapa derajat kecemasan kelas jika kelas harapan dan standar yang ditetapkan terlalu tinggi. Seringkali kita akan membangun harapan dan standar yang tampaknya masuk akal untuk kami, tetapi tidak masuk akal bagi para siswa. Kami tidak
sengaja membangun harapan dan standar yang terlalu tinggi bagi siswa kami untuk
bertemu, itu hanya terjadi karena mereka tampaknya lebih mudah bagi kita daripada yang mereka lakukan kepada para siswa.
Siswa akan menderita kecemasan kelas jika guru menggunakan kritik ekstrim atau
negatif komunikasi. Siswa tidak berhasil atau mencapai banyak ketika sebagian besar
komunikasi guru adalah kritik yang ekstrim, negatif, atau memalukan di alam. Siswa
akan sering menarik diri dari atau menghindari kelas di mana umpan balik guru dan
komunikasi dari jenis negatif. Ketika siswa menghindari atau menarik diri dari ruang kelas,
mereka tidak belajar konten baik. Oleh karena itu, kita perlu menghindari penggunaan ekstrim kritik komunikasi, negatif, atau memalukan sebagai praktik pembelajaran.
Salah satu atau semua faktor di atas menyebabkan berkurang guru / siswa mempengaruhi, dikurangi guru / mahasiswa komunikasi, dan kecemasan kelas tinggi. Pembelajaran konten
juga mengalami dampak negatif dari kecemasan siswa dan ketakutan.
Siswa dapat mengembangkan kecemasan kelas hanya jika sejumlah variabel dibahas
bawah hadir. Biasanya, seorang siswa tidak menjadi cemas karena satu buruk Situasi, namun, jika situasi yang traumatis cukup mereka mungkin menjadi cemas sekolah.
Siswa mungkin menderita beberapa derajat kecemasan kelas jika tujuan kami, tujuan, dan
niat terlalu ambigu, tidak jelas, atau tidak teratur. Semua siswa perlu tujuan yang jelas,
tujuan, dan niat untuk melakukan, jika tidak, mereka merasa tidak aman tentang tugas
dan proyek.
Siswa mungkin menderita beberapa derajat kecemasan kelas jika mereka hanya gagal dalam
sekolah, tidak pernah berhasil. Sejarah masa lalu siswa, bala bantuan masa lalu, dan masa lalu
kegagalan semua bisa berkontribusi pada ketakutan perasaan siswa tentang situasi kelas.
Sebagai contoh, jika seorang siswa gagal Inggris tiga kali pada saat mereka mengambil waktu yang keempat, mereka cemas, tidak aman, dan memprihatinkan.
Siswa mungkin menderita beberapa derajat kecemasan kelas jika mereka memprihatinkan
hal-hal lain di dalam kelas seperti pengujian, evaluasi komunikasi,, yang guru, atau menulis. Jika seorang siswa umumnya cemas tentang beberapa kelas kegiatan yang berhubungan, maka ia dapat menjadi lebih cemas tentang kelas umum Situasi.
Siswa mungkin menderita beberapa derajat kecemasan kelas jika mereka mengalami biasa
orangtua tekanan untuk berhasil. Banyak orang tua membuat ruang kelas dan sekolah sukses primer perhatian anak mereka. Mereka kesan kepada anak bahwa jika mereka tidak melakukannya dengan baik di sekolah, mereka
tidak dapat berhasil dalam usaha-usaha lainnya. Karena begitu banyak yang naik pada keberhasilan kelas,
anak menjadi cemas tentang keberhasilan kelas.
Siswa mungkin menderita beberapa derajat kecemasan kelas jika kelas harapan dan standar yang ditetapkan terlalu tinggi. Seringkali kita akan membangun harapan dan standar yang tampaknya masuk akal untuk kami, tetapi tidak masuk akal bagi para siswa. Kami tidak
sengaja membangun harapan dan standar yang terlalu tinggi bagi siswa kami untuk
bertemu, itu hanya terjadi karena mereka tampaknya lebih mudah bagi kita daripada yang mereka lakukan kepada para siswa.
Siswa akan menderita kecemasan kelas jika guru menggunakan kritik ekstrim atau
negatif komunikasi. Siswa tidak berhasil atau mencapai banyak ketika sebagian besar
komunikasi guru adalah kritik yang ekstrim, negatif, atau memalukan di alam. Siswa
akan sering menarik diri dari atau menghindari kelas di mana umpan balik guru dan
komunikasi dari jenis negatif. Ketika siswa menghindari atau menarik diri dari ruang kelas,
mereka tidak belajar konten baik. Oleh karena itu, kita perlu menghindari penggunaan ekstrim kritik komunikasi, negatif, atau memalukan sebagai praktik pembelajaran.
Salah satu atau semua faktor di atas menyebabkan berkurang guru / siswa mempengaruhi, dikurangi guru / mahasiswa komunikasi, dan kecemasan kelas tinggi. Pembelajaran konten
juga mengalami dampak negatif dari kecemasan siswa dan ketakutan.
KESIMPULAN
\Seorang siswa dapat menjadi cemas dikarenakan adanya situasi yang
buruk dan adanya situasi yang traumatis sehingga menyebabkan mereka merasa
cemas di sekolah khususnya di dalam kelas.
Adanya tujuan pengajaran yang kurang jelas dan tidak teratur
menjadikan siswa merasa cemas.
Siswa perlu tujuan/penjelasan yang jelas dalam penyampaian mata
pelajaran sehingga jika ada tugas mereka akan mengerjakan tugas tersebut dengan
baik dan tidak merasa terbebani.
Siswa mengalami kecemasan dalam kelas, jika :
-
Evaluasi,
pengujian dan komunikasi dengan guru kurang.
-
Adanya
tekanan dari orang tua yang mengharapkan anaknya berhasil sehingga mereka
menekan anaknya untuk terus belajar sehingga memunculkan kecemasan bagi siswa
jika mereka tidak mampu berhasil seperti yang diharapkan orang tuanya.
-
Standar
kompetensi yang ditetapkan terlalu tinggi.
-
Adanya
kritik ekstrim dan komunikasi antara guru dan siswa, guru tidak memberi
kesempatan bagi siswa untuk mengungkapkan pendapat mereka sehingga siswa akan
menarik diri dari kelas dan lebih memilih menghindari guru pelajaran tertentu
karena cemas pendapatnya tidak diterima lagi dengan membolos. Oleh Karena itu
sebagai seorang pengajar kita perlu menghindari kritik yang ekstrim terhadap
siswa dan komunikasi yang negative sehingga kecemasan dalam kelas dapat
terkurangi.
BELAJAR
DAN PEMBELAJARAN
DISUSUN OLEH :
FARIDATUL MAHSUNAH 12.1.01.01.0135
FIKI NI’MATUL K. 12.1.01.01.0262
IIN AHADIN HAQ 12.1.01.01.0267
LUTFI CHOLISHOTUN N. 12.1.01.01.0207
KELAS 1 C
UNIVERSITAS
NUSANTARA PGRI KEDIRI
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI
BIMBINGAN KONSELING
2012 – 2013
SAP_Komunikasi Antar Pribadi
Komunikasi Antar Pribadi
Dosen
Pengampu :
Dewi
Ratnawati, S.Pd
Satuan Acara
Perkuliahan :
1.
Definisi, Hakikat dan Konteks
Komunikasi
2.
Ruang Lingkup Komunikasi
3.
Fungsi Komunikasi
4.
Persepsi Dalam Komunikasi
5.
Prinsip-prinsip Komunikasi
6.
Komunikasi Interpersonal / Antar
Pribadi
7.
Ciri-ciri Komunikasi Interpersonal
8.
Sifat-sifat Komunikasi Interpersonal
9.
Sistem Komunikasi Interpersonal
10. Kendala-kendala
Komunikasi Interpersonal
11. Komunikasi
Interpersonal Dalam Konseling
12. Perbedaan
Komunikasi Interpersonal dalam konseling dan Non Konseling.
Disusun
Oleh:
Hidayah Budi
Arini (12.1.01.01.0066)
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Jurusan
Bimbingan Konseling ( 1 BK C)
1. Definisi, Hakikat dan Konteks
Komunikasi
·
Kata komunikasi atau communication dalam
bahasa inggris berasal dari bahasa Latin communis yang berarti “sama,”
Istilah (communis) paling sering disebut sebagai asal kata komunikasi,
yang merupakan akar dari kata-kata Latin lainnya. Komunikasi menyarankan bahwa
suatu pikiran, makna atau pesan dianut secara sama.
Kata lain yang mirip dengan komunikasi adalah komunitas (community) yang juga
menekankan kesamaan atau kebersamaan. Komunitas adalah sekelompok orang yang
berkumpul atau hidup bersama untuk mencapai tujuan tertentu, dan mereka berbagi
makna dan sikap. Tanpa komunikasi tidak akn ada komunitas, karena
komunikasi berperan dan menjelaskan kebersamaan.
Definisi tentang komunikasi, misalnya “komunikasi adalah penyampaian pesan
melalui media elektronik,” atau terlalu luas, misalnya “komunikasi adalah
interkasi antara dua makhluk hidup atau lebih,” sehingga peserta komunikasi ini
mungkin termasuk hewan, tanaman atau bahkan jin.
Komunikasi sebagai interaksi
Pandangan komunikasi sebagai interaksi menyetarakan komunikasi dengan proses
sebab-akibat atau aksi-reaksi, yang arahnya bergantian.
Komunikasi sebagai transaksi
Dalam konteks ini komunikasi adalah
proses personal karena makna atau pemahaman yang kita peroleh pada dasarnya
bersifat pribadi. Dalam komunikasi transaksional,
komunikasi dianggap telah berlangsung bila seseorang telah menafsirkan perilaku
orang lain, baik verbal maupun nonverbal
Komunikasi sebagai tindakan
satu-arah
Konseptualisasi
komunikasi sebagai tindakan satu arah menyoroti penyampaian pesan yang efektif
dan mengisyaratkan bahwa semua kegiatan bersifat instrumental dan persuasif.
·
KONTEKS-KONTEKS KOMUNIKASI
Secara luas konteks di sini berarti semua faktor di luar orang yang
bekomunikasi yang terdiri dari :
1.
Aspek bersifat fisik
Seperti : iklim, cuaca, suhu udara,
bentuk ruangan, warna dinding, penataan tempat duduk, jumlah peserta
komunikasi, dan alat yang tersedia untuk menyampaikan pesan.
2.
Aspek psikologis
Seperti : sikap kecenderungan ,
prasangka dan emosi peserta komunikasi.
3.
Aspek sosial
Seperti : norma kelompok, nilai
sosial dan karakteristik budaya.
4.
Aspek waktu
Yakni kapan berkomunikasi (hari apa,
jam berapa, pagi, siang, sore, malam )
2. Ruang Lingkup Komunikasi
a. Komunikasi
Persona / antar pribadi
Dalam catatan sejarah yang jauh
lebih luas, para ilmuwan komunikasi telah menempatkan studi mengenai komunikasi
antarpribadi kedalam bidang yang lebih luas mengenai komunikasi (Delia, 1987)
dan sebagai fokus studi kedalam speech communication (Rawlins, 1985). Studi
komunikasi antarpribadi mulai berkembang secara besar-besaran di Amerika
Serikat sejak tahun 1960-an.
Di awal tahun 1900-an, Georg Simmel
(1908/1950) telah melakukan observasi secara cermat mengenai komunikasi
antarpribadi yang sampai sekarang masih doperdebatkan meliputi konsep-konsep
seperti reciprocal knowledge, characteristics of the dyad, interaction,
rituals, secrecy, lies and truth, dan types of social relationship.
Tahun 1920-an dan tahu 1930-an.
Banyak bibit-bibit intelektual bagi studi komunikasi antarpribadi telai disemai
selama tahun 1920-an dan 1930-an. Elton Mayo dan para koleganya dai Harvard
Business School menemukan kekuatan potensial mengenai interaksi social dan
hubungan-hubungan social ditempat kerja.
b. Komunikasi
Kelompok
Sebagai makhluk social tentunya kita
tidak bisa lepas dari kegiatan berkomunikasi. Komunikasi sendiri merupakan
suatu hubungan interaksi yang kita lakukan baik terhadap diri sendiri maupun
dengan orang lain. Hal tersebut kita lakukan guna mempertahankan kelangsungan
hidup, karena sebagai makhluk social kita tidak bisa berdiri sendiri tanpa
bantuan orang lain.
Hal tersebut tercermin ketika
dilahirkan sampai dengan meninggal dunia. Saat kita dilahirkan tentu saja kita
tidak bisa melakukannya sendiri dan membutuhkan dokter atau bidan untuk
membantu persalinan dan kita berkomunikasi dengan cara menangis. Dalam hal
tersebut kita sudah membutuhkan pertolongan orang lain untuk dapat bertahan
hidup. Sat beranjak dewasa kita akan berada pada sebuah organisasi social yang
lebih besar dan unruk dapat masuk pada kehidupan tersebut kita melakukan komunikasi
dengan orang lain agar kita tidak terdegradasi dari struktur social.
Dengan diterimanya kita pada suatu
kehidupan social dapat diartikan kita telah sukses dalam berkomunikasi.
Meskipun demikian, sampai saat ini banyak sekali orang yang kesulitan dalam
melakukan kegiatan komunikasi dan bisa berdampak pada tidak diakuinya dalam
social kemasyarakatan sehingga menjadi terasing. Hal tersebut menadakan bahwa
“komunikasi” adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan kita dimana
kata tersebut memberikan dan menetukan kita menjalani kehidupan.
Dalam kegiatan kita sehari-hari
banyak fenomena social yang terjadi. Fenomena tersebut terkadang tidak kita
sadari dan berlangsung terus-menerus. Semakin lama semakin banyak fenomena yang
muncul dan akhirnya menarik seseorang untuk mencari rahasia dibalik fenomena
tersebut dan berusaha untuk menghadirkannya kembali dalam bentuk hasil
penelitian yang dinamakan“teori”.
c.
Komunikasi Massa
Kita hidup dilingkungan media yang
sedang berubah dengan cepat. Hanya beberapa tahun yang lalu, sebagian besar
orang tidak pernah mendengar multimedia atau intenet. Sekarang, anda hanpir
tidak bisa membaca Koran tanpa melihat salah satu atau keduanya.
Bentuk perubahan yang terjadi pada
lingkungan media banyak macamnya, dalam hal tertentu, sangat luar biasa. Koran
mengalami penurunan jumlah pembaca pada waktu tertentu. Di Amerika Serikat
televise berubah dari hanya lima stasiun (ABC, CBS, NBC, Fox, dan TV Publik)
menjadi sistem kabel dengan 50 saluran, dan bisa menjadi 500 atau lebih. Video
perekam memungkinkan orang menonton film dirumah dan mereka juga bisa merekam
acara yang sedang berlangsung untuk dinikmasti pada kesempatan lain. Beberapa
majalah menerbitkan edisinya memalui World Wide Web atau CD ROM. Pendekatan
lama pada pemberitaan mulai digantikan dengan Program Berita Baru. Periklanan
memnemukan kekuatan baru dalam era komunikasi baru ini. Orang-orang
menghabiskan lebih banyak waktu berkomunkasi dengan orang lain denga
menggunakan ruang obrol (chat room) di computer, dan permainan dunia maya
(virtual) member dimensi pengalaman dan kepuasaan baru bagi penggunanya.
3.
Fungsi Komunikasi
Menurut Onong Uchjana Effendy (2003:31)
menyimpulkan bahwa fungsi- fungsi komunikasi dan komunikasi massa dapat
disederhanakan menjadi empat fungsi, yaitu:
1. Menginformasikan (to infrom) Adalah
memberikan informasi kepada masyarakat, memberitahukan kepada masyarakat mengenai peristiwa yang
terjadi, ide atau pikiran dan tingkah
laku orang lain, serta segala sesuatu yang disampaikan orang lain.
2. Mendidik (to educate) Adalah
komunikasi merupakan sarana pendidikan, dengan komunikasi manusia dapat menyampaikan idea atau
pikiranya kepada orang lain, sehingga orang lain mendapatkan informasi dan ilmu
pengetahuan.
3. Menghibur to entertain) Adalah
komunikasi selain berguna untuk menyampaikan komunikasi, pendidikan dan mempengaruhi juga berfungsi
untuk menyampaikan hiburan atau menghibur orang lain.
4. Mempengaruhi (to influence) Adalah
fungsi mempenngaruhi setiap indivindu yang berkomuniakasi tentunya berusaha
saling mempengaruhi jalan pikiran komunikan dan lebih jauhnya lagi berusaha
merubah sikap dan tingkah laku komunikan sesuai dengan yang diharapakan.
(Effendy,1997:36)
5. dfghjk
4.
Persepsi Dalam Komunikasi
Persepsi dalam komunikasi dapat
berupa rangsangan indrawi yang kita tangkap melalui obyek yang
diintrepetasikan, intepretasi sendiri adalah sebuah proses menafsirkan obyek
yang ada, persepsi manusia ada dua yaitu obyek lingkungan fisik dan obyek
sosial.
Persepsi adalah proses menduga-duga
yang sifatnya lebih kepada mencoba untuk menafsirkan lebih secara mendalam.
Prasangka adalah citra mental yang
sifatnya kaku, yang itu yang berupa keputusan inti dari persepsi
Dua boyek persepsi manusia:
-Lingkungan fisik yang berupa
pengindraan terhadap sesuatu.
-Lingkunan sosial yanglebih pada
menangkap arti obyek-obyek sosial dari suatu kejadian.
Mcam-macam persepsi dalam
komunikasi:
§ Persepsi pengalaman.
§ Persepsi selektif yang berupa
tujuan, harapan, dan emosi.
§ Persepsi yang berupa dugaan.
§ Persepsi yang sifatnya sebagai
evaluatif.
§ Persepsi kontekstual, yaitu persepsi
yang memiliki kemiripan dan latar belakang yang sama..
§ Persepsi budaya(cultural bond)
6. Prinsip-prinsip Dalam Komunikasi
Komunikasi adalah suatu proses, yang dimaksud proses disini adalah suatu kegiatan yang beralngsung secara terus menerus secara berkesinambungan. Tidak ada bentuk yang baku bagi suatu proses, begitu juga dengan komunikasi yang selalu berubah-ubah menutut variasi dan elemen-elemen yang membentuknya. Dan sebagai suatu proses, komunikasi juga menuntud adanya hasil dari proses tersebut yaitu perubahan.
Komunikasi adalah sistem, proses Komunikasi terjadinya karena adanya elemen-elemen yang membangunnya, yaitu komunikator, pesan, media, komunikate dan feel. Elemen-elemen ini berkaitan satu sama lainnya, jika salah satu elemen mendapat gangguan maka akan menimbulkan gangguan pula pada elemen lainnya yang berdampak pada terganggunya proses terebut. Inilah alasan mengapa komunikasi dikatakan suatu sistem.
Komunikasi bersifat transakasi dan interaksi, proses komunikasi pada intinya merupakan transmisi pesan antara komunikator dan komunikan, hal ini penyebab terjadinya transaksi dan berlangsung secara kontiniu. Proses ini juga mendukung untuk terjadinya interaksi antara mereka yang berkomunikasi
Komunikasi dapat terjadi disengaja atau tidak sengaja, komunikasi yang disengaja terjadi karena pesan yang dikirimkan oleh komunikator memiliki tujuan khusus terhadap penerima yang dimaksud. Idealnya, hal tersebut dapat menimbulkan efek yang diharapkan. Tetapi itu bukanlah hal yang mudah, banyak faktor yang mempengaruhinya. Komunikasi juga dapat terjadi secara tidak sengaja, tetapi dapat diterima dengan sengaja oleh siapa saja yang saat itu berada dalam jangkaunnya.
Berdasarkan prinspi-prinsp tersebut diatas, dapat kita simpulkan bahwa komunikasi yang terjadi merupakan proses yang berlangsung secara berkesinambungan dan melibatkan elemen-elemen komunikasi secara keseluruhan. Proses ini dikatakan berhasil apabila pada akhirnya terjadi perubahan terhadap penerima pesan, sesuai dengan yang diharapkan pengirim pesan dan pada akhirnya akan menciptakan interaksi diantara mereka yang terlibat proses terebut.
6. Komunikasi antarpribadi
Komunikasi
antarpribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antara
orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap
reaksi orang lain secara langsung, baik verbal maupun nonverbal. Bentuk khusus
komunikasi ini adalah komunikasi diadik (dyadic communication) yang
melibatkan hanya dua orang, seperti suami-istri, dua sejawat, dua sahabat
dekat, dsb. Ciri komunikasi diadik adalah : pihak-pihak yang berkomunikasi
berada dalam jarak yang dekat, mengirim dan menerima pesan secara stimulan dan
spontan, baik secara verbal atau nonverbal. Sebagai komunikasi yang paling
lengkap dan sempurna, komunikasi antarpribadi berperan penting hingga kapan
pun, selama manusia masih mempunyai emosi. Komunikasi ini membuat manusia
merasa lebih akrab dengan sesamanya.
7. Ciri-ciri Komunikasi Interpersonal
Menurut
Barnlund (Liliweri, 1991:12-13) ada beberapa ciri yang bisa diberikan untuk mengenal komunikasi antar
pribadi yaitu :
1. Komunikasi antar pribadi terjadi
secara spontan
2. Tidak mempunyai struktur yang
teratur atau diatur
3. Terjadi secara kebetulan
4. Tidak mengejar tujuan yang telah direncanakan terlebih dahulu
5. Identitas keanggotaanya kadang-kadang kurang jelas
6. Bisa terjadi hanya sambil lalu
saja.
Menurut
Evert M. Rogers dalam Depari (Liliweri,
1991: 13) ada beberapa cirri komunikasi yang menggunakan saluran antar pribadi
adalah :
1. Arus pesan yang cenderung dua
arah
2. Konteks komunikasinya tatap muka
3.Tingkat umpan balik yang terjadi
tinggi
Dari berbagai sumber penulis dapat
dirumuskan bahwa komunikasi antar pribadi mempunyai ciri-ciri :
1. Komunikasi antar pribadi biasanya
terjadi secara spontan dan sambil lalu contoh pertemuan dirumah makan
2. Komunikasi antar pribadi tidak
mempunyai tujuan terlebih dahulu. Kebanyakan aksi terjadi komunikasi antar
pribadi tidak mempunyai satu tujuan yang diprogramkan atau dirumuskan terlebih
dahulu walaupun beberapa komunikasi anatar pribadi terjadi telah dijanjikan
sebagai contoh pertemuan yang terjadi di rumah makan sebagaimana di lukiskan
tersebut, perkenalan dalam bis, pertemuan di ruang perpustakaan kemudian
merencanakan belajar bersama di rumah teman, saling mengajak bermain kartu
sesudah sholat magrib.
3. Komunikasi antar pribadi terjadi
secara kebetulan di antara peserta yang tidak mempunyai identitas yang jelas, yaitu
peristiwa komunikasinya terjadi secara kebetulan di antara peserta yang tidak
mempunyai identitas sebagai contoh adalah pertemuan yang terjadi di suatu
tempat untuk pertama kali, biasanya orang yang bersangkutan mengenal satu sama
lain.
4. Komunikasi antar pribadi
mempunyai akibat yang disengaja maupun yang tidak disengaja, yaitu komunikasi yang menghasilkan
suatu akibat yang tidak disengaja atau yang disengaja, atau akibat yang direncanakan
terlebih dahulu maupun yang tidak direncanakan.
8.
Sifat-sifat Komunikasi Interpersonal
1. Komunikasi Antar Pribadi, Perilaku Pesan Verbal dan
Nonverbal
Goffman dan De Lozier, Little Jhon
(Liliweri, 1997 : 29) merinci perilaku pesan verbal atas: bahasa jarak/ruang
atau proksemik, bahasa gerak anggota tubuh atau kinesik dan perilaku yang
terletak antara verbal dan nonverbal yang disebut paralinguistik. Maksud dari proksemik yaitu tanda-tanda nonverbal yang mewakili pesan tentang bagaimana komunikator dan komunikan menempatkan jarak fisik atau memelihara ruang gerak dalam komunikasi
antarpribadi. Sedangkan maksud dari kinesik
adalah pesan nonverbal melalui gerak
tubuh atau anggota tubuh tertentu. Komunikasi atarpribadi selalu memanfaatkan
tanda-tanda informasi verbal maupun nonverbal
sebagai perilaku yang memberikan isi pesan dan hubungan pesan (ingat hubungan antar
lambang dan rujukan). Unsur isi pesan selalu terdiri atas apa yang dikatakan dan dibuat, sedangkan unsur
hubungan/relasi adalah bagaimana sesuatu itu dikatakan dan dibuat. Jadi baik
perilaku melalui pesan-pesan verbal maupun nonverbal bisa menunjukkan seberapa
jauh hubungan antara komunikator dan komunikan. Kesimpulan bahwa, perilaku
verbal dan nonverbal menghasilkan suatu suasana kedekatan (proximity) antara
komunikator dengan komunikan yang dalam bahas sosiologi komunikasi disebut
jarak sosial atau social distance
2. Komunikasi Antrapribadi, Perilaku
Spontan, Scripted, dan Contrived
Maksud dari bentuk perilaku spontan
adalah perilaku yang dilakukan secara tiba-tiba, serta merta untuk menjawab
suatu rangsangan dari luar. Perilaku
spontan biasanya dilakukan tanpa dipikirkan
terlebih dahulu. Bentuk perilaku Scripted
adalah suatu bentuk perilaku yang
dihasilkan melalui proses belajar. Bentuk perilaku Contrived merupakan perilaku
yang sebahagian besar dilakukan atas
pertimbangan kognitip. Jadi perilaku itu timbul karena manusia yakin dan percaya atas apa yang dia lakukan tersebut
benar-benar masuk akal. Semua
9. Sistem
Komunikasi Interpersonal
Menurut Drs. Jalaluddin Rahmat, M.Sc. lewat bukunya
yang berjudul Psikologi Komunikasi, beliau menjelaskan tentang
sistem dalam komunikasi interpersonal seperti :
- Persepsi Interpersonal
- Konsep Diri
- Atraksi Interpersonal
- Hubungan Interpersonal
10. Kendala
Dalam Komunikasi Interpersonal
1.Faktor Situasional Dapat
Mempengaruhi Persepsi
Situasi yang menyenangkan akan
menciptakan komunikasi yang menyenangkan pula, dan akan menimbulkan persepsi
yang baik pula. Karena pada dasarnya sikap emosi akan mudah terpancing saat
berada pada situasi yang salah, sehingga akan membentuk persepsi dimana ego
akan lebih mendominasi.
Persepsi adalah pengalaman tentang
objek, peristiwa, atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi
dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (
Desiderato, 1976:129 ).Jalaludin Rakhmatdalam bukunya ( Psikologi Komunikasi 2009:56 )
menyebutkan beberapa faktor dalam pembentukan persepsi manusia. Yang pertama
faktor Fungsional, berasal dari kebutuhan serta pengalaman masa lalu. Dalam
hal ini Krech dan Cruthfield juga merumuskan, persepsi
bersifat selektif secara fungsional, objek yang mendapat tekanan dalam persepsi
kita biasanya objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi.
Beberapa contoh adalah faktor kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional,
dan latar belakang budaya terhadap persepsi, serta faktor biologis juga
menyebabkan persepsi yang berbeda. Kedua merupakan faktor Stuktural,berasal
dari sifat stimuli fisik dan efek saraf yang ditimbulkanya pada sistem saraf
individu.
Dari pemaparan diatas dapat
dipahami, persepsi merupakan keadaan dimana manusia dapat memberi penilaian
terhadap suatu objek dan peristiwa yang sedang dihadapi. Oleh sebab itu faktor
situasional akan berpengaruh besar terhadap proses terbentuknya persepsi. Dalam
situasi yang menyenangkan akan menimbulkan persepsi yang menyenangkan, begitu
pula sebaliknya, jika berada pada situasi yang salah maka akan terbentuk
persepsi yang salah pula, serta akan menjadi penghambat dalam proses komunikasi
yang terjadi.
2.Pengaruh Konsep Diri Dalam
Komunikasi Interpersonal
Setiap individu memiliki konsep diri
yang berbeda, hal itu dapat terbentuk dari cara berfikir masing-masing yang
terpengaruh dari penilaian individu lain. Misal cara berfikir yang selalu
menaruh rasa curiga terhadap individu lain, maka itu adalah konsep diri yang
terbentuk dalam diri sebagai orang yang tidak pernah mudah menaruh rasa percaya
terhadap sesuatu. Terkadang konsep diri dapat disebut dengan kepribadian, saat
manusia memiliki konsep diri yang baik maka dapat mencerminkan pula pribadi
yang baik.
William D. Brooks
mendefinisikan konsep diri sebagai “Those physical, sicial, and
psychological perpections of ourselves that we have derived from experiences
and our interaction with other” (1976:40). Konsep diri adalah pandangan dan
perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat
psikologis, sosial dan fisis.Gabriel Marcel filusuf Eksistensialis
menulis tentang peranan orang lain dalam memahami diri, kita mengenal diri
kita dengan mengenal orang lain terlebih dahulu. Bagai mana anda mengenal diri
saya, akan membentuk konsep diri saya.
Penulis berpendapat, terbentuknya
konsep diri dipengaruhi oleh faktor pergaulan dan kebiasaan dimana setiap
personal memberi penilaian, proses komunikasi yang baik akan mempengaruhi
konsep diri yang baik pula. Dan sebaliknya, jika konsep diri sudah terbentuk
dengan hal yang tidak baik, maka hal itu akan menghambat terjadinya komunikasi
inter personal.
3.Atraksi Interpersonal
Komunikasi interpersonal merupakan
proses interaksi yang berlangsung secara tatap muka. Dalam proses komunikasi
ini akan terbentuk sebuah atraksi interpersonal, dimana individu mencoba
memprediksi sesuatu yang akan terjadi.
Dean C Barlund seorang ahli komunikasi interpersonal menulis “Menghindari
garis-garis atraksi dan penghindaran dalam sistem sosial, artinya mampu
meramalkan dari mana pesan akan muncul, kepada siapa pesan itu akan mengalir,
dan bagaimana pesan itu akan di terima” (Barlund, 1968:71). Atraksi
interpersonal akan berpengaruh terhadap efektifitas komunikasi. Komunikasi
dapat dikatakan efektif jika ada kenyamanan dan hal yang menyenangkan bagi
komunikan. Jika individu melakukan komunikasi dengan individu lain yang tidak
disukai, maka akan menimbulkan perasaan yang tidak nyaman dan proses komunikasi
dinilai tidak efektif.
4.Hubungan Interpersonal
Hubungan interpersonal akan
melibatkan dan membentuk dua pihak, yaitu hubungan antara anda dan saya, dimana
kita bisa saling berbagi pengalaman. Hal ini dapat dinamakan proses perkenalan,
saat masing-masing individu saling bertemu dan memulai interaksi. Hubungan ini
akan selalu berubah karena membutuhkan tindakan tertentu untuk membentuk
keseimbangan.
Tiga sikap untuk menumbuhkan
hubungan interpersonal
1.Sikap percaya, hal ini penting
untuk menentukan efektifitas dalam berkomunikasi. Jika sikap ini dapat diwujudkan,
maka proses komunikasi akan berlangsung dengan baik dan akan menimbulkan
interaksi yang menyenangkan.
2.Sikap Suportif, merupakan proses
mengurangi sikap difensif dalam komunikasi. Sikap difensif akan terjadi saat
individu merasa bahwa dirinya tidak dapat menerima, atau bahkan saat melakukan
kebohongan dan tidak jujur. Misal dalam kasus penipuan, disini pelaku akan
menggunakan sikap difensif untuk melindungi diri.
3.Sikap terbuka sangat berpengaruh
dalam membentuk komunikasi interpersonal yang efektif. Sikap ini akan
mengurangi perasaan curiga atau sikap tidak percaya terhadap individu lain saat
berlangsungnya komunikasi interpersonal.
- Menilai sumber. Menilai sumber maksudnya penafsiran atau pemberian arti terhadap suatu pesan dipengaruhi oleh orang yang mengirim (komunikator) pesan tersebut.
- Penyaringan. Penyaringan berkaitan dengan manipulasi informasi, khususnya informasi yang negatif.
- Tekanan waktu. Keterbatasan waktu merupakan fenomena yang terjadi dalam setiap aspek kehidupan, dan tekanan waktu menciptakan masalah penting dalam proses komunikasi.
- Mendengarkan secara selektif.Mendengarkan permasalahan secara selektif bagian dari permasalahan besar persepsi selektif, dimana seseorang hanya mendengarkan bagian tertentu dari informasi dan mengabaikan bagian yang lainnya dengan berbagai alasan.
- Masalah bahasa. Komunikasi merupakan suatu proses simbolis yang sebagian besar tergantung pada kata-kata yang dimaksudkan mengandung arti tertentu.
- Bahasa Kelompok. Pada umumnya kelompok-kelompok profesional mengembangkan istilah-istilah teknis yang hanya dapat dimengerti oleh kelompoknya saja.
- Perbedaan kerangka acuan . Komunikasi yang efektif memerlukan adanya proses penyandian dan penguraian didasarkan pada suatu pengalaman yang sama.
- Beban komunikasi berlebihan . Jika penerima mendapatkan informasi lebih dari yang kemungkinannya dapat mereka tangani maka mereka akan mengalami beban komunikasi yang berlebihan
11. Komunikasi Interpersonal Dalam Konseling
Komunikasi antar pribadi
Komunikasi ini merupakan proses pemberian dan penerimaan pesan antara dua atau lebih dengan melibatkan beberapa pengaruh dan umoan balik. Dalam proses konseling komunikasi antara pribadi perlu dikuasi oleh seorang konselor demi keefektifan konseling. Dalam proses konseling, komunikasi antar pribadi memungkinkan terjadinya interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan klien. Komunikasi ini ditandai dengan adanya:
1. Perkiraan berdasarkan informasi psikologis.
2. Interaksi berdasarkan pengetahuan yang lebih jelas.
3. Interaksi berdasarkan aturan yang dibuat secara pribadi.
Adapun maksud dari adanya komunikasi antar pribadi yakni sebagai berikut:
1. Menemukan diri sendiri.
2. Menemukan diri luar.
3. Membentuk dan memelihara hubungan yang bermakna dengan orang lain.
4. Mengubah sikap dan perilaku sendiri dengan orang lain.
5. Bermain dan hiburan.
6. Memberikan bantuan.
Agar tercapai keefektifan di dalam komunikasi, hendaknya memeperhatikan prinsip-prinsip komunikasi, yaitu sebagai berikut:
1. Tidak mungkin terhindar dari kehidupan tanpa komunikasi.
2. Semua momunikasi merujuk pada isi dan hubungan di antara partisipan.
3. Komunikasi tergantung pada petukaran antar partisipan atas dasar kesamaan sistem tanda dan makna.
4. Setiap orang berkomunikasi menggunakan rangsangan dan respon berdasrkan sudut pandangnya sendiri.
5. Komunikasi antar pribadi dapat merangsang timbulnya saling meniru dan saling melengkapi perilaku antar idnividu yang satu dengan yang lainnya.
Persepsi
Persepsi adalah proses individu menjadi sadar dan memberi makna terhadap obyek dan peristiwa di luar dirinya melalui bermacam alat dria. Kualitas komunikasi itu sangat ditentukan oleh persepsi masing-masing partisipan. Persepsi dipengaruhi oleh berbgai hal, yakni sebagai berikut:
1. Harapan individu.
2. Kesan pertama.
3. Kesan kelompok.
4. Derajat kesamaan perilaku orang lain.
5. Konsistensi perilaku dalam berbagai situasi.
6. Motivasi internal dan eksternal.
Menyimak
Merupakan aktivitas yang diwujudkan dalam bentuk proses mengirimkan kembali kepada pembicara mengenai pikiran, makna dan isi perasaan pembicara. Fungsi dari menyimak di dalam komunikasi antar pribadi yakni:
1. Membuat pendengar mengecek pemahaman secara tepat.
2. Menyatakan penerimaan pesan pembicara.
3. Merangsang pembicaraan agar memperluas perasaan dan pemikiran.
4. Memberitahukan kepada pembicara mengenai reaksi pendengar.
5. Memberikan bimbingan kepada pembicara untuk menyesuaikan isi-isi pesannya.
Menyimak yang efektif ditandai dengan beberapa hal, yakni sebagai berikut:
1. Berhenti bicara.
2. Tempatkan pembiaraan dengan mudah.
3. Bereaksi secara baik.
4. Konsentrasi pada apa yang sedang dibicarakan.
5. Jangan terlalu tergesa-gesa memberukan tafsiran.
6. Berbagi tanggung jawab dalam komunikasi.
7. Ungkapan dengan cara yang benar.
8. Menyatakan pemahaman.
9. Mengajukan pertanyaan.
10. Bersikap secara baik, misalnya bersahabat, sopan, terbuka, sensitive, dan lain-lain.
Keefektifan
1. Keterbukaan, kesediaan membuka diri, mereaksi kepada orang lain, merasakan pikiran dan perasaan orang lain.
2. Empati, menghayati perasaan orang lain.
3. Mendukung, kesediaan secara spontan untuk menciptakan suasana yang mendukung.
4. Positif, menyatakan sikap positif terhadap diri sendiri, orang lain dan situasi.
5. Keseimbangan, mengakui bahwa kedua belah pihak mempunyai kepentingan yang sama, pertukaran informasi secara seimbang.
6. Percaya diri, merasa yakin kepada diri sendiri, bebas dari malu.
7. Kesegaran, segera melakukan kontak disertai rasa suka dna berminat.
8. Manajemen interaksi, mengendalikan interaksi untuk memberikan kepuasan kepada kedua belah pihak, mengelola pembicaraan dnegan pesan-pesan yang baik dna konsisten.
9. Pengungkapan, keterlibatan secara jujur dalam berbicara dan menyimak baik secara verbal maupun non verbal.
10. Orientai kepada orang lain, penuh perhatian, minat dan kepedulian kepada ornag lain.
B. Membuka diri
Yakni tindakan menunjukan diri sendiri sehingga memmbuat oleh orang lain jadi mengenal diri sendiri. Dapat disebut membuka diri jika memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Diri sendiri sebagai isi.
2. Disengaja.
3. Diarahkan kepada orang lain.
4. Jujur.
5. Membuka pikiran.
6. Berisi informasi yang tidak terdapat dalam sumber lain.
7. Berlangsung dalam suasana keakraban.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan adanya membuka diri di dalam komunikasi antar pribadi, yakni:
1. Katarsis, upaya untuk melepaskan informasi diri.
2. Klarifikasi diri, memberikan penjelasan mengenai keyakinan, pendapatan, pikiran, sikap, dan perasaan diri dengan menceritakan kepada orang lain.
3. Validasi diri, untuk memperoleh persetujuan orang lain.
4. Pertukaran, mengajak orang lain membuka diri juga.
5. Pembentukan impresi, membuat kesan tertentu tentang diri sendiri.
6. Pemeliharaan dan peningkatan hubungan, yakni membuat hubungan dengan orang lain menjadi lebih baik dan berkembang.
7. Control social, mengingkatkan pengendalian terhadap orang lain dan situasi di mana diri sendiri berhubungan dengan orang lain.
8. Manipulasi , melakukan pembukaan diri dengan diperhitungkan sebelumnya untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Komunikasi ini merupakan proses pemberian dan penerimaan pesan antara dua atau lebih dengan melibatkan beberapa pengaruh dan umoan balik. Dalam proses konseling komunikasi antara pribadi perlu dikuasi oleh seorang konselor demi keefektifan konseling. Dalam proses konseling, komunikasi antar pribadi memungkinkan terjadinya interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan klien. Komunikasi ini ditandai dengan adanya:
1. Perkiraan berdasarkan informasi psikologis.
2. Interaksi berdasarkan pengetahuan yang lebih jelas.
3. Interaksi berdasarkan aturan yang dibuat secara pribadi.
Adapun maksud dari adanya komunikasi antar pribadi yakni sebagai berikut:
1. Menemukan diri sendiri.
2. Menemukan diri luar.
3. Membentuk dan memelihara hubungan yang bermakna dengan orang lain.
4. Mengubah sikap dan perilaku sendiri dengan orang lain.
5. Bermain dan hiburan.
6. Memberikan bantuan.
Agar tercapai keefektifan di dalam komunikasi, hendaknya memeperhatikan prinsip-prinsip komunikasi, yaitu sebagai berikut:
1. Tidak mungkin terhindar dari kehidupan tanpa komunikasi.
2. Semua momunikasi merujuk pada isi dan hubungan di antara partisipan.
3. Komunikasi tergantung pada petukaran antar partisipan atas dasar kesamaan sistem tanda dan makna.
4. Setiap orang berkomunikasi menggunakan rangsangan dan respon berdasrkan sudut pandangnya sendiri.
5. Komunikasi antar pribadi dapat merangsang timbulnya saling meniru dan saling melengkapi perilaku antar idnividu yang satu dengan yang lainnya.
Persepsi
Persepsi adalah proses individu menjadi sadar dan memberi makna terhadap obyek dan peristiwa di luar dirinya melalui bermacam alat dria. Kualitas komunikasi itu sangat ditentukan oleh persepsi masing-masing partisipan. Persepsi dipengaruhi oleh berbgai hal, yakni sebagai berikut:
1. Harapan individu.
2. Kesan pertama.
3. Kesan kelompok.
4. Derajat kesamaan perilaku orang lain.
5. Konsistensi perilaku dalam berbagai situasi.
6. Motivasi internal dan eksternal.
Menyimak
Merupakan aktivitas yang diwujudkan dalam bentuk proses mengirimkan kembali kepada pembicara mengenai pikiran, makna dan isi perasaan pembicara. Fungsi dari menyimak di dalam komunikasi antar pribadi yakni:
1. Membuat pendengar mengecek pemahaman secara tepat.
2. Menyatakan penerimaan pesan pembicara.
3. Merangsang pembicaraan agar memperluas perasaan dan pemikiran.
4. Memberitahukan kepada pembicara mengenai reaksi pendengar.
5. Memberikan bimbingan kepada pembicara untuk menyesuaikan isi-isi pesannya.
Menyimak yang efektif ditandai dengan beberapa hal, yakni sebagai berikut:
1. Berhenti bicara.
2. Tempatkan pembiaraan dengan mudah.
3. Bereaksi secara baik.
4. Konsentrasi pada apa yang sedang dibicarakan.
5. Jangan terlalu tergesa-gesa memberukan tafsiran.
6. Berbagi tanggung jawab dalam komunikasi.
7. Ungkapan dengan cara yang benar.
8. Menyatakan pemahaman.
9. Mengajukan pertanyaan.
10. Bersikap secara baik, misalnya bersahabat, sopan, terbuka, sensitive, dan lain-lain.
Keefektifan
1. Keterbukaan, kesediaan membuka diri, mereaksi kepada orang lain, merasakan pikiran dan perasaan orang lain.
2. Empati, menghayati perasaan orang lain.
3. Mendukung, kesediaan secara spontan untuk menciptakan suasana yang mendukung.
4. Positif, menyatakan sikap positif terhadap diri sendiri, orang lain dan situasi.
5. Keseimbangan, mengakui bahwa kedua belah pihak mempunyai kepentingan yang sama, pertukaran informasi secara seimbang.
6. Percaya diri, merasa yakin kepada diri sendiri, bebas dari malu.
7. Kesegaran, segera melakukan kontak disertai rasa suka dna berminat.
8. Manajemen interaksi, mengendalikan interaksi untuk memberikan kepuasan kepada kedua belah pihak, mengelola pembicaraan dnegan pesan-pesan yang baik dna konsisten.
9. Pengungkapan, keterlibatan secara jujur dalam berbicara dan menyimak baik secara verbal maupun non verbal.
10. Orientai kepada orang lain, penuh perhatian, minat dan kepedulian kepada ornag lain.
B. Membuka diri
Yakni tindakan menunjukan diri sendiri sehingga memmbuat oleh orang lain jadi mengenal diri sendiri. Dapat disebut membuka diri jika memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Diri sendiri sebagai isi.
2. Disengaja.
3. Diarahkan kepada orang lain.
4. Jujur.
5. Membuka pikiran.
6. Berisi informasi yang tidak terdapat dalam sumber lain.
7. Berlangsung dalam suasana keakraban.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan adanya membuka diri di dalam komunikasi antar pribadi, yakni:
1. Katarsis, upaya untuk melepaskan informasi diri.
2. Klarifikasi diri, memberikan penjelasan mengenai keyakinan, pendapatan, pikiran, sikap, dan perasaan diri dengan menceritakan kepada orang lain.
3. Validasi diri, untuk memperoleh persetujuan orang lain.
4. Pertukaran, mengajak orang lain membuka diri juga.
5. Pembentukan impresi, membuat kesan tertentu tentang diri sendiri.
6. Pemeliharaan dan peningkatan hubungan, yakni membuat hubungan dengan orang lain menjadi lebih baik dan berkembang.
7. Control social, mengingkatkan pengendalian terhadap orang lain dan situasi di mana diri sendiri berhubungan dengan orang lain.
8. Manipulasi , melakukan pembukaan diri dengan diperhitungkan sebelumnya untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Langganan:
Postingan (Atom)